Dalam makanan yang kita makan terkandung dua macam zat yaitu zat gizi dan zat non-gizi. Yang dimaksud zat gizi adalah zat makro-nutrien dan mikro-nutrien yang dibutuhkan tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Sementara zat non-gizi adalah zat selain nutrisi yang tidak dicerna secara metabolisme biasa namun tetap memilki peranan bagi tubuh seperti serat dan polifenol pada teh contohnya.

Perlu diketahui bahwa mencampur satu makanan dengan bahan makanan lainnya itu ada interaksinya. Interaksi tersebut bisa bersifat positif dan bisa juga negatif. Asam fitat dalam sayuran, serelia, atau umbi-umbian misalnya. Zat non-gizi tersebut dapat mengikat zat besi (Fe), seng (Zn), atau magnesium (Mg). Akibatnya mineral-mineral tersebut tidak dapat diserap tubuh dengan maksimal.

Contoh interaksi positif adalah antara protein dan zat besi (Fe). Konsumsi protein yang tinggi dapat meningkatkan kalsium (Ca) dan seng (Zn). Begitu pula vitamin D bila dikonsumsi bersamaan dengan kalsium dapat mempercepat laju pembentukkan “alat transpor” mineral tersebut.

Sementara zat tanin yang terkandung dalam teh memilki interaksi dengan beberapa mineral. Di antaranya mengakibatkan terganggunya penyerapan kalsium dan zat besi. Oleh karena itu, kebiasaan meminum teh bersamaan saat makan adalah sebuah hal yang sangat merugikan. Inilah salahsatu kekeliruan yang salah kaprah dan perlu diketahui untuk diperbaiki.

Sifat teh dengan zat tanin di dalamnya bersifat mengikat mineral dan menyamak protein. Sehingga makanan yang sudah melewati proses pencernaan mulai dari mekanis di mulut dan penguraian di lambung dan seterusnya, beberapa jenis mineralnya kemudian diikat kembali oleh zat tanin ini dan kemudian dibuang keluar melalui tinja.

Dengan demikian maka bila ingin minum teh sebaiknya berjarak 2-3 jam sesudah makan untuk menghindari interaksi negatif tadi. Jika tidak, bisa-bisa zat-zat gizi dari makanan yang kita makan cuma sekedar “numpang lewat” saja jadinya.

tulisan ini juga dapat dibaca pada blog saya yang lain (klik)